Friday, June 16, 2017

3 Things Indonesian Do During Ramadhan

Ramadhan is a holy month out of twelve other months of Hijriyah. It's a holy month because Muslim is supposed to do fasting every day in the month. Muslim is promised with a great reward for every good deed that's done in the month. Usually, people set some targets in their worship, like finishing reading a whole of the holy Quran and rousing the sunnah prayers.

However, besides the main things people do during Ramadhan, there are some cultures happen among Indonesian Muslim. Actually, the cultures may differ every region but generally, these are four of them:

Sahur On The Road (SOTR)
Ramadhan is all about sharing and togetherness. Some communities usually do SOTR in Ramadhan by giving people some food for suhoor. Having suhoor together, besides to get close to the society, is also to strengthen the connection in the community. I've personally never had this experience yet. Have any of you experienced it in Ramadhan?

Breaking the Fast (Iftar) Together
As Ramadhan is about togetherness, breaking the fast together seems like a mandatory activity. This event can be based on the alumnae of school and college, students from the same hometown, community members, or as little as BFFs.

While I was in senior high school, the intensity of this event is dense. We had iftar with the students from the same region today, tomorrow was with the foster sisters, the day after was with classmates and even ex-classmates. Sometimes, we cooked together too. Despite the intricacy, togetherness like this during Ramadhan is always be hoped for.


My iftar event with the alumnae of Insan Cendekia in Surabaya

Buying New Clothes
It's sale and promo everywhere! The modern shopping centers and traditional markets are crowded. The closer to Eid, the more crowded they can be. In my town in Kotamobagu, there is a temporary market called "Pasar Senggol" every Ramadhan. "Pasar" means market and "senggol" means nudge. Named Pasar Senggol because people tend to nudge each other in the market with the crowd.

I often go to my hometown during Ramadhan and actually, I'm not into the clothes sold here. They're not really good and the prices are not worth it. I sometimes buy the Eid clothes earlier in Surabaya before going home. Thanks to the internet, I can buy good Muslim clothes online even when I'm already in Kotamobagu. Moreover, I can shop by brands or category. I even can do window shopping by browsing all collections on the online store. Some of them are provided with the applications so we can do mobile shopping. What an easy way.


Well, those are the general things Indonesian do during Ramadhan. Would you mind to share the culture in your region that happens during Ramadhan? Comment down below!

xoxo,

Wardah

Sunday, June 4, 2017

Recent Favorite: My Neighbor Charles

It's some weeks ago when I saw my friend's IG story, telling that she was currently watching a Korean TV show "My Neighbor Charles". Most of her stories gave me a thought that My Neighbor Charles tries to show people how Muslims, as the minority, live in Korea.

Last week, I remembered the IG stories and tried to search it on YouTube. Thanks to my uni's wifi and YouTube's save offline feature (I can even enjoy the cc subtitles), I could watch some episodes of My Neighbor Charles comfortably in my bedroom.

Apperantly, it's not the show about how Muslims in Korea. My Neighbor Charles shows us how foreigners live in Korea. It's not just some days, a week, or two weeks staying in an Airbnb house to enjoy the famous country. The foreigners are about to live in Korea in a long term. Some are immigrants, many of them came because of marriage, and there's also a story with religious reason.

The fact that the TV show is not as I expected was good because it gives me more knowledge than I thought it would. Of course, it wants to show us that people are different. Different culture means different perception, different attitude, different taste, and different everything. We need to respect to each other's. And I don't know whether it is because I'm in a state where I want to learn about relationship and parenting so badly or not, I learn some things about them too. Well, I'm a little bit confused which type of parenting I should choose in the future, but at least I realized that how Western educate children is different with Asian.

The most important thing: Language is a hindrance yet a help. Koreans don't speak English, which makes it difficult for foreigners to communicate with native Koreans. A woman can't even speak properly to her mother-in-law and discuss things about her child. Because it's a hindrance, language is also a help if we can master it. Doesn't it make you want to learn some languages of the country where the natives don't speak other than theirs? (like Korean, France, or Japan).

Well, it does for me.

Anyone has watched this too?

I'm still continuing to watch more episodes of the TV show.

xoxo,


Wardah

*This post is written when I got asleep hardly after watching some episodes of it

Friday, March 10, 2017

Cerita Zetizen Editor's Choice

Hai, Pals! Apa kabar?

Sesuai janjiku minggu lalu, kali ini aku akan bercerita tentang apa saja yang dilakukan oleh Zetizen Editor's Choice, yang merupakan kelanjutan dari Zetizen Summer Class Internship.

Ada beberapa orang yang terpilih untuk lanjut mengerjakan proyek fashion editorial di Zetizen. Beberapa orang tersebut dibagi menjadi 2 kelompok dengan susunan yang sama seperti kemarin, yaitu terdiri dari fashion stylist, model, make-up artist, fotografer, dan videografer. Kali ini, aku tidak masuk dalam salah satu kelompok, tetapi benar-benar mengikuti proses dari kedua kelompok.

Apa sih, bedanya dengan proyek yang terdahulu? Untuk proyek ini, karya kami berhak dimuat di halaman Zetizen di koran Jawa Pos. Terbayang kan betapa excited-nya kami membayangkan punya satu halaman koran yang berisi karya kami sendiri?

Fendi - Mas dari Zetizen - Vanessa - Aku - Mbak Indri - Salman - Puput - Stanley - Karina Oktavia - Angie

Oke, aku akan mulai cerita langkah-langkah yang kita jalani ya...

Langkah #1 Group Meeting
Saat meeting, diputuskan fashion item apa saja yang dibutuhkan, make up seperti apa yang diinginkan, lokasi pemotretan, dan sebagainya. Walaupun komunikasi kelompok di grup Line tetap berjalan, rapat secara tatap muka adalah sebuah keharusan. Setiap kelompok wajib melakukan asistensi dengan Mbak Indri (fashion editor Zetizen) mengenai konsep yang akan diangkat beserta segala rinciannya. Mengapa? Karena proyek ini akan diterbitkan di koran, tentunya peminjaman wardrobe dan fasilitas pemotretan apapun semuanya dibantu oleh pihak Zetizen. Selain bagus-tidaknya konsep yang diusung, Mbak Indri juga memastikan semua wardrobe yang dipinjam memang bisa ditampilkan. Kalau tidak, pihak brand pasti akan komplain dan tentunya nama Zetizen dan Jawa Pos yang akan terkena dampaknya.

Oh iya, untuk konsep sendiri, kelompok 1 mengusung tema Kemerdekaan Indonesia dan diterbitkan pada bulan Agustus 2016 menjelang Hari Kemerdekaan Indonesia. Dua bulan setelahnya yaitu bulan Oktober, hasil karya kelompok 2 terbit dengan tema 70's Street Style. Untuk waktu sendiri, memang tidak ada batasan yang ketat dari pihak Zetizen, asalkan tidak berjarak terlalu lama setelah libur lebaran.

Robbi - Wardah - Cindy - Zetta - Zalfa - Vito

Langkah #2 Wardrobe Hunting
Buat kamu yang sudah pernah menonton film Devils Wear Prada, kamu pasti nonton adegan di mana pemeran utamanya bolak-balik meminjam, mendata, dan mengembalikan setumpukan baju dan aksesoris ke toko atau butik. Ya, kira-kira seperti itulah langkah ini. It's a dream scene of my future life anyway. Nah, yang banyak bekerja di proses ini adalah fashion stylist, yang tentunya didampingi Mbak Indri tercinta. Tapi jangan salah ya, nggak semua kebutuhan kita bisa terpenuhi dari brand sponsor. Kreatifitas kita untuk mendapat wardrobe juga diperlukan. Misalnya kelompok dengan tema Kemerdekaan Indonesia, yang berkreasi membuat atasan dari karung goni. Atau kelompok kedua yang harus tetap memakai wardrobe pribadi, karena produk dari brand online yang kurang sesuai ekspektasi. Intinya, sumber wardrobe itu bisa dari mana saja, kok. Meminjam wardrobe dari sponsor juga tidak mudah, karena regulasi yang berbeda dari setiap brand, misalnya mengenai waktu keluar dan masuknya barang dari toko.

Karya kelompok 2 70's Street Style

Langkah #3 Photoshoot
Hari yang ditunggu-tunggu oleh semuanya. Sesi pemotretan selalu dimulai dengan mendandani para model. Sebelum menuju lokasi, baik di markas Zetizen atau di Sekolah Make Up, para model didandani oleh make up artist dibantu oleh make up artist profesional dari Sekolah Make Up. Aku yang sejak awal berperan sebagai pengamat dan pembantu umum ikut membantu menyiapkan wardrobe, seperti nge-steam pakaian serta melapisi bagian bawah sepatu dengan kertas super tebal dan perekat agar tidak lecet. Semua wardrobe ini adalah barang baru dan harus dikembalikan tanpa lecet sedikit pun, lho. Terbayang bagaimana besarnya tanggung jawab kita kalau kebetulan yang dipinjam adalah jaket atau heels yang harganya jutaan?

Nah, kalau semua sudah siap, berangkatlah seluruh tim ke lokasi pemotretan. Fotografer dan videografer pun menjalankan tugas utamanya dengan arahan fashion stylist. Fashion stylist memang memegang peran yang besar, karena ia yang menjalankan semua konsep yang sudah dirancang. Make up artist bertugas melakukan touch-up jika wajah model mulai berminyak atau lipstik sudah mulai tidak on. Aku? Terus mengamati dan menangkap feel yang ingin diciptakan oleh fashion stylist agar nanti narasinya pun tidak 'lari'. Sekaligus menjadi pembantu umum tentunya.

Oh iya, sebaiknya melakukan survey lokasi sebelum hari H photoshoot. Kalau tidak, banyak waktu yang akan terbuang untuk menentukan titik photoshoot yang pas saat hari pemotretan tiba. Time efficiency is a must!

Karya kelompok 1 Kemerdekaan Indonesia

Langkah #4 Unseen Process After Photoshoot
Selesai proses photoshoot, perjuangan belum selesai, nih, terutama untuk fotografer, videografer, dan creative writer (atau fashion reporter). Pekerjaan fotografer adalah memilih foto-foto terbaik dari ratusan foto yang telah diambil dan mengirimkannya ke pihak Zetizen untuk nantinya akan di-layout sesuai ukuran koran yang akan dicetak. Videografer tentunya harus mengedit video-video yang telah diambilnya hingga apik serta siap disebarluaskan lewat YouTube dan media sosial lainnya.

Nah, fashion reporter bertugas menulis narasi yang sesuai dengan tema fashion editorial dan harus mengirimkannya ke editor. Seru lho, tiada mungkin tanpa revisi, hahaha. Tidak mudah sebenarnya menulis apa yang awalnya adalah pengetahuan dari fashion stylist, sebab pengetahuan kita akan fashion tentu berbeda. Mau nggak mau, aku harus mencari tahu tentang permainan-permainan di pesta kemerdekaan atau sejarah fashion 70-an. Kecuali mau membuat tulisan yang sekadar tulisan tidak berbobot dan tidak memberi pengetahuan baru kepada pembaca, seorang fashion reporter tidak boleh mengabaikan proses research ini.

Voila! Ini dia halaman Zetizen yang memuat karya fashion editorial kami...


Terjawab sudah pertanyaan di postingan sebelumnya
Kalau kamu penasaran dengan orang-orang yang terpilih untuk menjalankan proyek ini, di sini aku cantumkan akun Instagram mereka, ya
Fashion Stylist Vanessa Puput Robbi
Make up artist Salman Cindy
Fotografer Fendi Vito
Videografer Stanley Zalfa
Model Griselda

Oh iya, soal kenapa aku muncul dengan tulisan berbahasa Indonesia akan aku jawab, nih. Tidak mudah juga ternyata menulis dalam bahasa Indonesia yang nggak begitu resmi. Di sini kan aku menulis dalam bahasa Indonesia di sebuah rubrik yang fokus pada remaja. Sulit juga ternyata. Karena itulah, postingan kali ini aku mencoba menulis dalam bahasa Indonesia dan mengesampingkan idealisme bahwa blogku harus terlihat profesional dengan bahasa yang seragam. Maaf ya kalau agak aneh :"

xoxo,

Wardah
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...