Friday, March 10, 2017

Cerita Zetizen Editor's Choice

Hai, Pals! Apa kabar?

Sesuai janjiku minggu lalu, kali ini aku akan bercerita tentang apa saja yang dilakukan oleh Zetizen Editor's Choice, yang merupakan kelanjutan dari Zetizen Summer Class Internship.

Ada beberapa orang yang terpilih untuk lanjut mengerjakan proyek fashion editorial di Zetizen. Beberapa orang tersebut dibagi menjadi 2 kelompok dengan susunan yang sama seperti kemarin, yaitu terdiri dari fashion stylist, model, make-up artist, fotografer, dan videografer. Kali ini, aku tidak masuk dalam salah satu kelompok, tetapi benar-benar mengikuti proses dari kedua kelompok.

Apa sih, bedanya dengan proyek yang terdahulu? Untuk proyek ini, karya kami berhak dimuat di halaman Zetizen di koran Jawa Pos. Terbayang kan betapa excited-nya kami membayangkan punya satu halaman koran yang berisi karya kami sendiri?

Fendi - Mas dari Zetizen - Vanessa - Aku - Mbak Indri - Salman - Puput - Stanley - Karina Oktavia - Angie

Oke, aku akan mulai cerita langkah-langkah yang kita jalani ya...

Langkah #1 Group Meeting
Saat meeting, diputuskan fashion item apa saja yang dibutuhkan, make up seperti apa yang diinginkan, lokasi pemotretan, dan sebagainya. Walaupun komunikasi kelompok di grup Line tetap berjalan, rapat secara tatap muka adalah sebuah keharusan. Setiap kelompok wajib melakukan asistensi dengan Mbak Indri (fashion editor Zetizen) mengenai konsep yang akan diangkat beserta segala rinciannya. Mengapa? Karena proyek ini akan diterbitkan di koran, tentunya peminjaman wardrobe dan fasilitas pemotretan apapun semuanya dibantu oleh pihak Zetizen. Selain bagus-tidaknya konsep yang diusung, Mbak Indri juga memastikan semua wardrobe yang dipinjam memang bisa ditampilkan. Kalau tidak, pihak brand pasti akan komplain dan tentunya nama Zetizen dan Jawa Pos yang akan terkena dampaknya.

Oh iya, untuk konsep sendiri, kelompok 1 mengusung tema Kemerdekaan Indonesia dan diterbitkan pada bulan Agustus 2016 menjelang Hari Kemerdekaan Indonesia. Dua bulan setelahnya yaitu bulan Oktober, hasil karya kelompok 2 terbit dengan tema 70's Street Style. Untuk waktu sendiri, memang tidak ada batasan yang ketat dari pihak Zetizen, asalkan tidak berjarak terlalu lama setelah libur lebaran.

Robbi - Wardah - Cindy - Zetta - Zalfa - Vito

Langkah #2 Wardrobe Hunting
Buat kamu yang sudah pernah menonton film Devils Wear Prada, kamu pasti nonton adegan di mana pemeran utamanya bolak-balik meminjam, mendata, dan mengembalikan setumpukan baju dan aksesoris ke toko atau butik. Ya, kira-kira seperti itulah langkah ini. It's a dream scene of my future life anyway. Nah, yang banyak bekerja di proses ini adalah fashion stylist, yang tentunya didampingi Mbak Indri tercinta. Tapi jangan salah ya, nggak semua kebutuhan kita bisa terpenuhi dari brand sponsor. Kreatifitas kita untuk mendapat wardrobe juga diperlukan. Misalnya kelompok dengan tema Kemerdekaan Indonesia, yang berkreasi membuat atasan dari karung goni. Atau kelompok kedua yang harus tetap memakai wardrobe pribadi, karena produk dari brand online yang kurang sesuai ekspektasi. Intinya, sumber wardrobe itu bisa dari mana saja, kok. Meminjam wardrobe dari sponsor juga tidak mudah, karena regulasi yang berbeda dari setiap brand, misalnya mengenai waktu keluar dan masuknya barang dari toko.

Karya kelompok 2 70's Street Style

Langkah #3 Photoshoot
Hari yang ditunggu-tunggu oleh semuanya. Sesi pemotretan selalu dimulai dengan mendandani para model. Sebelum menuju lokasi, baik di markas Zetizen atau di Sekolah Make Up, para model didandani oleh make up artist dibantu oleh make up artist profesional dari Sekolah Make Up. Aku yang sejak awal berperan sebagai pengamat dan pembantu umum ikut membantu menyiapkan wardrobe, seperti nge-steam pakaian serta melapisi bagian bawah sepatu dengan kertas super tebal dan perekat agar tidak lecet. Semua wardrobe ini adalah barang baru dan harus dikembalikan tanpa lecet sedikit pun, lho. Terbayang bagaimana besarnya tanggung jawab kita kalau kebetulan yang dipinjam adalah jaket atau heels yang harganya jutaan?

Nah, kalau semua sudah siap, berangkatlah seluruh tim ke lokasi pemotretan. Fotografer dan videografer pun menjalankan tugas utamanya dengan arahan fashion stylist. Fashion stylist memang memegang peran yang besar, karena ia yang menjalankan semua konsep yang sudah dirancang. Make up artist bertugas melakukan touch-up jika wajah model mulai berminyak atau lipstik sudah mulai tidak on. Aku? Terus mengamati dan menangkap feel yang ingin diciptakan oleh fashion stylist agar nanti narasinya pun tidak 'lari'. Sekaligus menjadi pembantu umum tentunya.

Oh iya, sebaiknya melakukan survey lokasi sebelum hari H photoshoot. Kalau tidak, banyak waktu yang akan terbuang untuk menentukan titik photoshoot yang pas saat hari pemotretan tiba. Time efficiency is a must!

Karya kelompok 1 Kemerdekaan Indonesia

Langkah #4 Unseen Process After Photoshoot
Selesai proses photoshoot, perjuangan belum selesai, nih, terutama untuk fotografer, videografer, dan creative writer (atau fashion reporter). Pekerjaan fotografer adalah memilih foto-foto terbaik dari ratusan foto yang telah diambil dan mengirimkannya ke pihak Zetizen untuk nantinya akan di-layout sesuai ukuran koran yang akan dicetak. Videografer tentunya harus mengedit video-video yang telah diambilnya hingga apik serta siap disebarluaskan lewat YouTube dan media sosial lainnya.

Nah, fashion reporter bertugas menulis narasi yang sesuai dengan tema fashion editorial dan harus mengirimkannya ke editor. Seru lho, tiada mungkin tanpa revisi, hahaha. Tidak mudah sebenarnya menulis apa yang awalnya adalah pengetahuan dari fashion stylist, sebab pengetahuan kita akan fashion tentu berbeda. Mau nggak mau, aku harus mencari tahu tentang permainan-permainan di pesta kemerdekaan atau sejarah fashion 70-an. Kecuali mau membuat tulisan yang sekadar tulisan tidak berbobot dan tidak memberi pengetahuan baru kepada pembaca, seorang fashion reporter tidak boleh mengabaikan proses research ini.

Voila! Ini dia halaman Zetizen yang memuat karya fashion editorial kami...


Terjawab sudah pertanyaan di postingan sebelumnya
Kalau kamu penasaran dengan orang-orang yang terpilih untuk menjalankan proyek ini, di sini aku cantumkan akun Instagram mereka, ya
Fashion Stylist Vanessa Puput Robbi
Make up artist Salman Cindy
Fotografer Fendi Vito
Videografer Stanley Zalfa
Model Griselda

Oh iya, soal kenapa aku muncul dengan tulisan berbahasa Indonesia akan aku jawab, nih. Tidak mudah juga ternyata menulis dalam bahasa Indonesia yang nggak begitu resmi. Di sini kan aku menulis dalam bahasa Indonesia di sebuah rubrik yang fokus pada remaja. Sulit juga ternyata. Karena itulah, postingan kali ini aku mencoba menulis dalam bahasa Indonesia dan mengesampingkan idealisme bahwa blogku harus terlihat profesional dengan bahasa yang seragam. Maaf ya kalau agak aneh :"

xoxo,

Wardah

Sunday, March 5, 2017

Ceritaku di Zetizen Summer Class Internship

Halo, Pals!

Rasanya udah lama banget nggak aktif ngeblog. Mungkin kalian bertanya-tanya kenapa aku tiba-tiba muncul dengan tulisan berbahasa Indonesia. Ini semua ada hubungannya dengan cerita yang akan aku bagi. Sesuai judulnya, kali ini aku akan bercerita tentang salah satu pengalaman paling berharga dan berkesan di hidupku (yak, mulai lebai). Pengalaman berharga itu adalah menjadi Zetizen Squad yang beruntung bisa mencicipi magang dan menggarap beberapa proyek di Zetizen Surabaya.

Kenapa berharga dan berkesan? Pertama, karena ini bidang yang aku damba-dambakan sejak lama dan aku kira tidak ada jalan, tetapi ternyata tiba-tiba ada jalan yang terbuka setelah gagal apply Cerita Kita-nya GoGirl!. Kedua, di sini aku banyak bekerjasama dengan anak SMA, karena rentang umurnya memang maksimal 20 tahun. Dan umurku saat itu 20 tahun lebih. Di situ aku jadi tahu kalau anak-anak SMA di Surabaya itu keren-keren banget. Aku hanya butiran debu. Tapi kalaupun kamu merasa terlambat, jangan mundur Guys kalau ada kesempatan. Apalagi masih memenuhi requirement nya. Kalaupun enggak tapi kamu super pengen banget dengan keinginan menggebu di dalam dada, hajar aja!

Wanna know more? Stay tune, ya!


Wah, gambar apa itu? Sebelum aku menjawab pertanyaan itu (yang mungkin sebenarnya sudah bisa ditebak), aku akan mencoba bercerita dengan urutan waktu. Jadi, jawaban tentang "gambar apa itu" akan muncul di bagian akhir.

Cerita ini bermula dari sebuah posting Instagram dan Official Line Zetizen. Saat itu, aku baru sadar kalau Zetizen ini dulunya bernama Deteksi, semacam salah satu rubrik (atau apa ya namanya) di media-media Jawa Pos Group yang fokusnya lebih kepada anak muda (SMA dan mahasiswa awal). Nah, saat itu menjelang puasa Ramadhan, terbitlah pengumuman program Zetizen Summer Class Internship. Aku yang saat itu seharusnya magang pun tergiur, sebab aku kurang tertarik magang di bidang arsitektur (yang untungnya nggak wajib). Singkat cerita, aku pun panik menerjemahkan salah satu postingan blogku yang ini ke bahasa Indonesia dan mengirimnya ke Zetizen sebagai portofolio untuk mendaftar sebagai creative writer. Setelah solat tarawih di suatu malam, aku iseng membuka website Zetizen karena was-was, dan ternyata namaku ada di daftar peserta magang sebagai creative writer. Sendirian :"

Oh iya, program ini baru pertama kali diadakan saat aku ikuti. Saat itu dibuka program Zetizen Summer Class Internship di dua kota, yaitu Jakarta dan Surabaya. Usut punya usut, program di Jakarta fokusnya ada pada penggarapan event, sedangkan program di Surabaya berfokus pada proyek fashion editorial. Which is why I was so interested and felt so lucky. Alhamdulillah.

Kamu akan sering muncul di koran lho
Kegiatan pun dimulai. Di awal pertemuan, kami dibagi menjadi 4 kelompok yang nantinya harus mengerjakan sebuah proyek fashion editorial. Setiap kelompok terdiri dari fashion stylist, model, make up artist, fotografer, dan videografer. Aku sendiri yang merupakan writer satu-satunya dimasukkan ke satu kelompok, namun tetap bertugas menulis narasi untuk proyek semua kelompok. Dan di sini, lagi-lagi aku bersyukur karena bisa mengikuti sesi pemotretan dari setiap kelompok.

Sebelum mengerjakan proyek kelompok, kami dibekali dengan berbagai keterampilan sesuai bidang yang kita minati. Para fashion stylist diajari cara membuat konsep untuk sebuah pemotretan fashion editorial melalui moodboard. Para model dilatih untuk bergaya di depan kamera dan harus bersedia datang di kelas make up artist untuk didandani. Fotografer dan videografer pun diajari teknik mengambil gambar. Aku sendiri mengikuti kelas fashion stylist dan juga diberi materi khusus tentang creative writing (khususnya fashion) oleh fashion editor Zetizen, mbak Indri.

Setelah presentasi kelompok -menceritakan konsep yang akan diusung di proyek fashion editorial kami-, tibalah sesi pemotretan. Kamu bisa melihat sesi pemotretan kita di halaman After School Zetizen. Tapi kalau kamu penasaran banget, ini dia beberapa hasil pemotretan dari semua kelompok.



Dari proyek fashion editorial ini, dibuat polling untuk memilih karya terfavorit. Selain itu, para editor Zetizen juga memilih anak-anak yang bisa melanjutkan perjalanan membuat fashion editorial yang 'beneran'.

Oh iya, kami semua peserta internship mendapat sertifikat keikutsertaan, lho. Sertifikat ini diberikan saat acara buka bersama Zetizen dengan siswa-siswi SMA di Hotel Luminor Surabaya. Di acara ini, diumumkan juga karya fashion editorial favorit dan intern pilihan editor (Editor's Choice). Acara ini seru banget. Selain bisa dapat makanan berbuka yang gratis, kami juga dikasih kaos Zetizen lho. (Ya, Wardah memang gratisvora)





Hmm, panjang juga ya. Sepertinya harus ada bagian kedua nih untuk proyek kami-kami yang terpilih menjadi Editor's Choice. Haha. See ya, Pals!

xoxo,


Wardah
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...